Pertaruhan Hidup Babirusa di Tanah Terakhir

Populasi Satwa Langka Babirusa bertaruh dengan perubahan fungsi hutan di Cagar Alam Gunung Ambang menjadi hutan produksi dan pembangkit listrik geothermal.

Dewi Cholidatul

Seekor Babirusa mengendus-endus diantara pepohonan dari suku Magnoliaceae, di tepi danau Mooat, yang merupakan bagian dari Cagar Alam Gunung Ambang, Sulawesi Utara. Kepalanya hikmad menekuri bumi yang sedang dipijaknya.

Taring yang seolah hendak mencolok matanya sendiri mengais-ngais dan menyingkirkan duri rotan yang berkeliaran. Saat matanya melihat kubangan lumpur, tubuhnya yang gempal menyerupai babi itu langsung saja terjun, seolah mandi lulur.

Kegiatan mandi lumpur yang dilakukan hewan sepanjang satu meter ini untuk menghilangkan rasa terik yang menyengat kulitnya yang nyaris tanpa bulu. Kubangan air dan lumpur akan memberikan efek dingin pada kulitnya yang kasar dengan warna kelabu. Tak heran, ia menyukai tempat-tempat yang dekat dengan sungai ataupun danau.

Secara morfologi, satwa bernama latin Babyrousa babirussa bertubuh gempal meyerupai babi namun berukuran lebih kecil. Yang paling mencolok dari semuanya adalah taringnya yang panjang mencuat menembus moncong dan melengkung ke belakang.

Saat mencari makan, satwa setinggi 65-80 cm ini tidak menyuruk tanah seperti babi hutan. Ia memakan buah dan membelah kayu-kayu mati untuk mencari larva lebah. Satwa seberat nyaris 1 kwintal ini menyukai buah-buahan seperti mangga, jamur, dan dedaunan.

Satwa berekor sekitar 20-35 cm ini termasuk binatang yang bersifat penyendiri, meski sering terlihat dalam kelompok-kelompok kecil. Saat berada dalam sebuah kelompok kecil, satu babirusa jantan yang paling kuat akan memimpin gerombolan tersebut. Mereka termasuk binatang pemalu, yang enggan berinteraksi dengan manusia. Namun, jika merasa terancam, ia bisa menjadi sangat buas.

Satwa yang terancam punah ini terdiri atas tiga subspesies yang masih bertahan hidup sampai sekarang yaitu; Babyrousa babyrussa babyrussa, Babyrousa babyrussa togeanensis, dan Babyrousa babyrussa celebensis serta satu subspesies yang diyakini telah punah yakni Babyrousa babyrussa bolabatuensis.

Secara umum, babirusa betina hanya melahirkan sekali dalam setahun dengan jumlah bayi satu sampai dua ekor. Masa kehamilannya berkisar antara 125 hingga 150 hari. Hewan endemik ini termasuk berumur pendek, sekitar 24 tahun. Kondisi ini semakin mempersulit perkembang-biakannya hingga terjadi penurunan populasi satwa ini.

Berkurangnya populasi babirusa ini juga diakibatkan oleh perburuan untuk mengambil dagingnya yang dilakukan oleh masyrakat sekitar. Selain itu deforestasi hutan sebagai habitat utama hewan endemik ini dan jarangnya frekuensi kelahiran membuat satwa endemik ini semakin langka.

Keluarga Suidae ini hanya bisa dijumpai di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya seperti pulau Togian, Sula, Buru, Malenge, dan Maluku. Selain di Cagar Alam Gunung Ambang, beberapa wilayah yang diduga masih menjadi habitat babirusa antara lain Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Cagar Alam Panua. Sedangkan di Cagar Alam Tangkoko, dan Suaka Margasatwa Manembo-nembo satwa unik endemik Sulawesi ini mulai langka dan jarang ditemui. Tak heran, Kawasan Gunung Ambang sendiri dinilai sebagai tanah terakhir bagi babirusa.

Meski populasinya tidak diketahui dengan pasti, namun IUCN Redlist menganggap satwa ini berstatus konservasi Vulnerable (Rentan) sejak tahun 1986. Ini didasarkan pada persebarannya yang terbatas. Konvensi internasional CITES bahkan mamasukkan binatang langka dan dilindungi ini dalam daftar Apendiks I yang tidak boleh diburu dan diperdagangkan.

Kebijakan pemerintah daerah untuk mengubah 3 ribu hentare lebih hutan di kawasan ini menjadi hutan produksi, dikhawatirkan akan menjadi bumerang bagi perkembangan berbagai satwa yang mendiami kawasan ini. Kebijakan pemerintah setempat ini bahkan telah disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, baru-baru ini.

“Total yang disetujui 3.232,73 hektare. Sisanya dari yang diusulkan 146,35 hektare tetap dipertahankan sebagai bagian cagar alam,” kataKepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sonny Waroka.

Lahan yang dialihfungsikan tersebut rencananya akan menjadi lokasi pembangunan pembangkit listrik pertamina geothermal energi (PGE) dan perkebunan hortikultura seluas 2.490,64 hektare dan hutan lindung 285,55 hektare. Lahan PGE tersebut sekitar 102 hektare berada di Kabupaten Bolaang Mongondow.

Cagar Alam Gunung Ambang sendiri merupakan habitat satwa langka yang jarang ditemukan di tempat lain. Selain babirusa, tempat ini mengoleksi anoa pengunungan, monyet hitam sulawesi, Cinnabar Hawk Owl, dan burung hantu Minahasa.

Eksotika Cagar Alam ini dipercantik dengan keberadaan Danau Mooat, yang terletak di ketinggian 1.100 di atas permukaan laut. Selain itu, kawasan ini juga mengoleksi Danau Tondok yang jaraknya kurang dari 1 km dari Danau Mooat, serta Danau Banga, yang terletak di puncak gunung bagian belakang desa.

Akses menuju Cagar Alam ini bisa ditempuh sekitar 3,5 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum dari kota Manado ke arah Kotamobagu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *